I Wanna Be a Drummer

Kali ini aku akan bahas sesuatu yang mengarah ke hobby. Wahooooo, kenapa aku mau mengangkat tema ini dipostingan kali ini. Karena aku mau cerita tentang kegagalan beberapa hal yang menurutku GAGAL untuk seorang Nindhy. Kenapa begitu? Yah, jelas aja aku ngerasa gagal, ayahku yang seorang musisi *dulu* tapi anaknya malah nggak bisa memainkan alat musik. Hahaha.

Alat musik yang aku bisa mainkan dengan lancar ya recorder. Iya, recorder yang seperti ini:

Kayak seruling ya, tapi ini yang aku bisa dan aku punya alat musiknya secara pribadi. Jangan kaget aja kalo aku yang notabene seorang cewek bisa mainin alat musik begini. Karena alat musik ini gampang menurutku, jadi dalam sekejap aku bisa mainin dengan lancar. Tapi iya harus emang bener-bener ngatur nafas biar nggak ngos-ngosan pas main.

Sebelum aku punya recorder tadi aku sempat nyoba belajar main gitar, seperti ini:

Waktu itu sekitar kelas 2 SMP, itupun belajarnya terpaksa gara-gara harus tugas praktek kesenian. Belajar secara otodidak dan dibantu oleh teman sekolah akhirnya dalam waktu seminggu sebelum praktek aku sudah bisa memainkannya walaupun sering sumbang.😀

Lagu yang ku bisa kala itu lagunya Ungu Band – Demi Waktu. Lagunya agak sedih memang tapi waktu belajarnya malah ketawa mulu dan feel sedihnya ilang seketika. Owh iya, tapi jangan berpikir kalo aku sekarang masih bisa mainin gitar ya, salah besar. Aku sekarang malah kagok kalo disuruh mainin alat musik ini. Malu sumpah, nggak bisa sama sekali aku. hahaha *padahal dulu pernah belajar*

Beberapa waktu lalu, dipaksa mainin gitar untuk membuktikan ucapanku sama seorang teman dekat. Dan aku dengan lantang berkata ‘aku nggak bisa mas, beneran deh’. Dan si dia tetep nggak percaya karena menurut dia aku ini nggak buta nada. *blushing* Tapi setelah ku jelaskan beberapa fakta akhirnya dia mengerti.😀 *akhirnya*

Oh iya jauh sebelum aku mulai mengenal belajar yang namanya gitar dan recorder, aku sudah lebih dahulu diajarkan piano oleh Ayahku. Ayah emang jago dalam berbagai macam alat musik, maka dari itu anak-anaknya diajarkan juga main musik biar bisa ngikutin jejaknya.

Tapi emang dasarnya aku nggak tertarik dengan piano, sampe ayah kesel aku tetep nggak bisa mainkan sampe sekarang. Nggak tau kenapa, tapi emang aku ngerasanya begitu. Aku nggak pernah ngedapetin feel-nya kalo lagi mainin piano seperti aku main recorder.

Ayah sampe bilang gini, ‘kamu itu anaknya pemain musik tapi nggak bisa sama sekali main musik kecuali main suling (baca: recorder). Dan saudara-saudara yang lainpun berkata demikian. *poor me*

Okk, aku nggak nyerah kok walau aku gak bisa mainkan alat-alat musik kayak gitar sama piano tadi. Sekarang aku pingin belajar main drum, biar kece gitu kayak Sepupuku yang seorang drummer.😀

Kenapa aku malah beralih ke alat musik yang biasanya di dominasi oleh pria. Karena aku ngerasa itu keren dan lagi Aku mau jadi pemain drum, biar bisa menggebuk-gebuk hati kamu. #Eaaaaa

Aku ngerasa dengan main drum aku bisa nyalurin emosi-emosi jiwa dan biar bisa terlihat keren kayak tante Titi Sjuman atau kayak J.P Millenix.

*Tante Titi*

*JP Millenix*

Mereka berdua inilah yang aku jadikan kayak semacam inspirator buat bisa main drum. Mereka bisa main drum dengan begitu bagusnya walaupun mereka ini wanita. Mereka bisa kenapa aku nggak bisa, itu sih prinsipnya. Tapi kendalanya satu, aku mau belajar dimana? Alatnya aja gak punya, kalo di studio musik sendiri kayak anak ola-olo gak ada temannya. Jadi, ya cuma memendam keiinginan aja deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s