Tawuran? Mending Ta’arufan

Beberapa hari kemarin Dunia pendidikan dihebohkan dengan beberapa tawuran.

Yah, semisal yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu. Yang menewaskan seorang siswa dari salah satu sekolah disana. Menurut beberapa berita tawuran yang terjadi itu terjadi karena ‘tawuran-tawuran sebelumnya‘, istilahnya balas dendam gitulah. Nah, kalo menurutku tawuran itu rugi banget. Rugi nyawa sih yang paling vital menurutku. Banyangin aja, tawuran pasti nggak hanya ngandelin kekuatan fisik bahkan ada juga yang pake senjata tajam. Apa nggak ngeri tuh?

Mereka-mereka yang ikut tawuran kadang nggak ngerti “kenapa mereka ikutan kegiatan itu (baca: tawuran)“. Banyak yang bilang adu gengsilah, rebutan kekuasan tempat nongkrong, bahkan ada yang konyol (menurutku) gara-gara rebutan gebetan. Nah, masalah-masalah itu kalo dipikir dengan akan normal pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik.

Daripada ngikut tawuran nggak jelas mending ngikutin kegiatan olahraga, itung-itung nyehatin badan. Terus siapa tau bisa membawa kamu jadi atlet nasional, kan nggak ada yang tau?😀 Ketemu banyak teman dan siapa tau bisa berjodoh. *Eeeh.

Oh, iya. Aku pernah tuh ngalamin kejadian yang hampir serupa. Waktu itu aku diminta menemani salah satu guru untuk melihat pertandingan antar sekolah. *Saat itu aku sudah ALUMNI*.

Berawal ketika aku lagi main ke sekolah, entah dalam rangka apa aku kesana. Ketika hendak meninggalkan sekolah aku dipanggil oleh salah satu Ibu Guru, aku diminta menemani beliau melihat pertandingan sepak bola antara MAN Srono (sekolahku) melawan SMK Muhammadiyah Srono.

Saat itu aku sih iya-iya aja diajak ngeliat pertandingan itu, karena usut punya usut mantan gebetan ada disana juga melihat pertandingan itu. *Modus banget*

Nah waktu aku dan Ibu Guru tiba di TKP (baca: lapangan pertandingan), disana ternyata sudah memasuki babak adu pinalty. Wah sayang banget itu, kirain pertandingannya masih baru mulai babak ke-2 ternyata sudah hampir kelar. Dengar-dengar dari adik-adik tingkat, pertandingan tadi berjalan seru gara-gara skor imbang.

Ketika adu pinalty itu ternyata skornya beda-beda tipis. Ketika tandukan terakhir oleh adik tingkatku ternyata gagal dan akhirnya sekolahku mendapatkan kegagalan..😥

SMK Muhammadiyah itulah yang jadi pemenangnya, tapi tiba-tiba sesuatu terjadi. Sekolah itu yang emang terkenal beringas agak nakal, tiba-tiba menyerang pemain-pemain dari Sekolahku itu. Nggak tau gara-gara apa yang pasti dari kubu adik tingkatku sudah ada yang jadi korban, adik tingkatku itu di tendang dibagian perut (kalo nggak salah dengar). Ada lagi yang ditonjok dibagian muka, penyerang-penyerang itu juga lewat didepanku dan hampir menyerang adik-adik tingkat yang menjadi supporter. Aku yang ada ditengah-tengah mereka jadi agak merinding takut kena serangan juga. Mereka yang menyerang itu langsung ditarik sama guru-guru mereka, dan disuruh pulang kembali ke sekolah. Adik-adik tingkatku dan aku menunggu polisi yang emang sengaja dipanggil untuk mengawal pulang setelah penyerangan tadi. Ketika kembali ke sekolah, pihak Penyerang yang rupanya sudah sampai disekolahnya masih tidak terima waktu anak-anak dari sekolahku itu lewat didepan sekolah mereka. Ada yang mau meloncat pagar segala untuk menyerang lagi. Untungnya sekolahku itu punya guru-guru yang keren dan punya trik jitu buat meredam amarah para darah muda untuk balik menyerang.

Aku pulang dengan aman dan selamat. Tapi kasihan juga adik-adik tingkatku yang jadi korban.😦

Kejadian itu sudah lama berlalu, sekarang Alhamdulillah nggak pernah kudengar tentang penyerangan-penyerangan serupa. Baik di sekolah mana pun di dekat sini.😀

Jujur deh ya, nggak ada gunanya banget ikutan tawuran. Rugi total deh, mending ukir prestasi dibidang akademis dan non akademis (seperti: olahraga). Daripada tawuran yang mengukir nama di kantor kepolisian, mencoreng nama keluarga dan mempermalukan diri sendiri. Cowok-cowok yang ngikut tawuran nggak bakal punya nilai lebih dimata cewek-cewek, cewek pasti lebih milih cowok yang berprestasi daripada yang nol prestasi.

Ta’arufan sama prestasi akan mmembuat orang tua bangga dan bisa suatu saat nanti dibanggakan ke anak cucu. Daripada Ta’arufan sama dunia hitam yang malah bikin malu diri sendiri dan memicu premanisme pada diri sendiri kelak dimasa tua.

So, kamu pilih jadi orang-orang yang prestasi atau yang minim prestasi??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s