Sebuah Perjalanan

Berawal dari sebuah ‘hijrah’ mengikuti orang tua, membawa aku ke tempat ini. Sebuah kota kecil diwilayah Jawa Timur, tepatnya di daerah Banyuwangi. Disini ku menikmati masa-masa terakhirku di bangku Sekolah Mengengah Pertama, tepatnya di SMP PGRI  Srono. Berbeda dengan sekolahku dulu yang berada di kawasan ITCI, Penajam Paser Utara, disekolahku ini aku tak dapat menikmati fasilitas-fasilitas yang biasa ku dapatkan ‘dulu’. Dahulu, bisa menggunakan 1 PC per anak di setiap pelajaran TIK, disini 1 PC digunakan untuk 2 orang. Mengeluh di awal, ya, bertanya pada diri sendiri ‘kenapa dulu ayah mengajak pindah kesini? Disini sekolahnya jelek, nggak sama kayak sekolahku yang dulu’. Maklum saja saat itu aku masih cenderung labil, umurku saat itu masih 12 tahun.

Beranjak ke masa menjelang ujian akhir, ketika sepupuku bingung memilih sekolah mana yang akan di pilih untuk ‘Sekolah Menengah Atas’, aku dengan santai memilih Madrasah Aliyah, kenapa demikian? Ada berbagai alasan kenapa aku memilih disekolah ini, bukan karena ‘nilai ataupun kemampuan akademik’, tapi karena menilai kepraktisan. Madrasah Aliyah dekat dari rumah cukup berjalan kakipun sampai ‘menghemat biaya transportasi’, mendapatkan ‘pelajaran lebih’ khususnya untuk pelajaran Agama. ‘Daripada sekolah jauh-jauh tapi hasilnya sama saja mending cari yang dekat rumah,’ pikirku saat itu. Dan benar, apa yang pilih ternyata membawa keberuntungan tersendiri bagiku, ketika sepupuku yang seusia denganku bingung mencari kost-kost-an untuk’tempat tinggal sementaranya’ aku santai-santai saja. Ketika tau aku memilih Madrasah Aliyah, pilihan itu ditertawakan oleh sejumlah ‘keluarga besar dari pihak Umiku’. Ada yang bilang ‘mau jadi bu Nyai kamu sekolah disitu?’, apa peduliku, pertanyaan yang ‘menyindir itu’ ku anggap angin lalu saja terlalu penting untuk ditanggapi. hahaha *sadis sekali*😀

Seiring berjalannya waktu tiba saatnya untuk penentuan jurusan, ketika sepupuku ‘menangis’ gara-gara nggak masuk program jurusan IPA, aku tetap santai dengan program pilihan, yaitu: IPS. ‘Kenapa masuk IPS? Kenapa nggak IPA? Kamukan nilainya bagus-bagus tuh, gak sayang?’, segelintir pertanyaan dari seorang temanku. Semua pertanyaan itu ku jawab dengan jawaban pamungkas, ‘aku milih IPS, supaya ntar nggak terlalu sulit mencari kerja, terus nggak banyak hapalan rumus fisika dan molekul-molekul kimia’. Padahal nilai-nilaiku untuk pelajaran itu ‘cukup mumpuni’, bukan sombong tapi emang seperti itu. Teman-teman yang saat itu nilainya pas-pasan Memaksakan masuk ke jurusan Bergengsi itu, tapi aku tetap pada jurusan IPS. *hidup IPS* *LEBAY…!!!*

Waktupun terus bergulir dan hingga pada akhirnya, pilihanku ini membawaku pada sebuah titik pencapaian yang memuaskan. Aku mendapatkan BEASISWA, yihaaa, kaget, nggak percaya, kok bisa kayak gitu, padahal aku Biasa-biasa ajja waktu dikelas dan di ujian semester. Tapi, Alhamdulillah, dengan pencapaian itu aku meringankan orang tuaku untuk biaya sekolah.🙂

Hingga sampailah pada titik akhir, yaitu Ujian Akhir Nasional. Menjadi beban tersendiri ketika harus melaksankannya, kenapa? Karena pada saat bersamaan, Ayahku Hijrah kembali ke Kalimantan Timur. Pasti timbul pertanyaan ‘apa hubungannya kalo Ayahmu di Kal – Tim terus kamu disini. Kan masih ada Umimu?’. Yah, bener banget masih ada Umiku, tapi pada saat itu nggak cukup memberi semangat belajar untukku, kurang Ayahku. Hingga disaat ujian aku nggak konsen, berakibat nilai ujianku bernilai BAGUS.

Tapi semua itu sudah berlalu, sekarang tinggal memanfaatkan ilmu-ilmu yang ku dapatkan dulu untuk bekerja. Yey…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s